Aku percaya bahwa alasan mengingat masa lalu bukanlah untuk menyesalinya, ia berguna sebagai alat ukur seberapa besar peluang kita berhasil di masa kini atau masa depan. Masa lalu bukan penjara; ia adalah jembatan. Dari sanalah langkah berikutnya ditentukan. Berhenti tanpa menyebrang, atau berjalan di atas jembatan yang mungkin rapuh, namun bisa mengantarmu ke tempat yang lebih baik.
Sekarang aku lebih sering bicara tentang belajar, soal bagaimana otak bekerja, semesta seolah berkonspirasi agar aku mau memahami diriku sendiri. Baru aku sadari ternyata belajar memiliki wajah yang lebih sunyi: yaitu belajar dari kesalahan yang pernah terjadi. Kesalahan yang tinggal di ingatan, yang sesekali muncul tanpa diundang, terasa sakit dan memaksaku berhenti sejenak menyeka duka yang tiba-tiba terasa.
Mamang belajar dari kesalahan tidak selalu harus dari kesalahan sendiri. Sejarah ada karena manusia ingin mengingat apa yang pernah terjadi, apa yang keliru, dan apa yang seharusnya tidak diulang. Membaca peristiwa yang pelakunya bukan diri kita, memahami pola pikirnya, dan berharap cukup bijak untuk tidak jatuh di lubang yang sama dengan cerita sejarah.
Sejarah selalu menyimpan luka. Ia mencatat peristiwa, menguliti sebab-akibatnya, bahkan kadang menyertakan solusi yang terlambat. Ordelama dan Reformasi, misalnya, hadir dengan begitu banyak catatan tentang kekeliruan. Justru dari sanalah ia menjadi penting, sebagai peringatan agar kesalahan serupa tidak kembali berulang dalam wujud yang berbeda.
Setelah kontemplasi yang panjang, aku akhirnya menyadari ada jenis sejarah lain yang jarang ditulis: sejarah yang hidup di kepala kita masing-masing. Sejarah yang pelakunya adalah diri sendiri. Kesalahan yang tidak pernah dipublikasikan, tidak pernah dicatat, dan mungkin hanya diri sendiri yang mengingatnya.
Anehnya, kesalahan semacam ini sering kali lebih melekat. Ada dorongan untuk menyimpannya rapat-rapat, agar tidak diketahui siapa pun. Tapi justru karena itu, ia menjadi pelajaran yang paling jujur. Rasa malu, penyesalan, dan keinginan untuk tidak mengulanginya menanamkan makna yang lebih dalam.
Setidaknya, begitulah yang aku alami. Mungkin pemahaman ini tidak berlaku untuk semua orang. Bisa saja kamu memiliki kelapangan yang luar biasa untuk membagi cerita kesalahanmu ke orang lain atau bahkan orang banyak demi agar orang lain tidak mendapatkan salah atau penyesalan seperti kamu.
Yang aku yakini, sejarah diri sendiri, betapapun sunyi dan tak tercatat, ia sering kali memberi kemungkinan peluang berhasil yang lebih besar agar aku tidak mengulangi kesalahan yang sama, dibandingkan sejarah yang hanya kita baca di buku atau berita dan kata-kata.