Bekasi Monolog Festival

Acara kolektif yang bertajuk “Bekasi Monolog Festival (BMF)”.

Aku datang sebagai pengamat yang diharapkan bisa menjadi pupuk untuk menumbuhkan dorongan sebagai bahan bakar berkesenian dengan memberikan pandangan yang bersifat stimulan. Semua sudah dirancang sedemikian rupa oleh penggagas untuk membuat kobaran baru, membangun bahkan menjaga semangat berkesenian di Bekasi.

Perjalananku dari rumah diiringi rintik hujan sejak siang, sampai kedatanganku di ruang hikmat Lab Teater Korek – Unisma disambut dengan suasana proses persiapan acara yang sudah lama sekali kurindukan; makan bersama, berdiskusi tentang bagaimana seni bekerja dalam nadi yang berkontemplasi untuk diri.

Sejujurnya di sepanjang perjalanan aku bertanya dalam pikiran, untuk acara yang baru pertama kali dihadirkan, “apakah BMF nanti ada penontonnya? Hujan gini”. Meski dalam hatiku merasakan bahwa tanpa penonton pun setiap acara yang digagas oleh pegiat seni, penyair dan aktor akan tetap berjalan dengan hikmat meski hanya di hadapan latar dan bangku kosong.

Long short story (logat anak Jaksel) – meski cuaca hujan, penonton tetap ramai, tumpah dan megah. Aku mengamati setiap penampil dengan detail dari mulai keaktoran, komposisi naskah sampai beberapa aspek lainnya.

BMF akan memberikan ruang kemungkinan baru bagi pegiat acara seni di Bekasi yang sedang berproses. Berangkat dari kesadaranku tentang segala ketumpangtindihan akar dan dahan, daun, bunga dan buah dari pohon sastra yang terus bertumbuh dan berubah. Aku yakin BMF akan menemukan tempatnya sebagai gerakan berkesenian yang hidup. Aku harap keyakinanku menjadi doa yang dikabulkan bagi siapapun yang sudah menemukan jalan mencintai dirinya sendiri  lewat pintu Seni, Sastra dan Budaya.

Terimakasih Bekasi Monolog Festival

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *