Gunung Slamet Waktu Itu

Haii

Sahabat Jaxson 🙂

Kali ini Jax akan menuliskan lukisan perjalanan menuju atap Jawa Tengah.

Gn.Slamet 3428 mdpl. Lewat jalur pendakian Kaliwadas. Enjoy!!

Untuk region Jakarta perjalanan dimulai dari terminal Grogol – pukul 20.00- 5 Feb 2016.

Harga tiket bus 85ribu menuju terminal baru Bumiayu.

Ada juga beberapa sahabat Jax yang gas dari kotanya masing-masing.

Perjalanan malam itu sangat hikmat, saking nikmatnya sampai waktu tempuhnya selama 13 jam.

 Ya!

Jam 09.00 Pagi Jaxson dan sahabat pendaki lain baru sampai di Bumiayu.

Pendakian Gn.Slamet kali ini bersifat Share Cost maksudnya biaya selama perjalanan dan pendakian akan dibagi rata beban nominalnya sesuai jumlah pendaki.

Jumlah sahabat Jaxson yang mendaki kali ini sebanyak 32orang, dari berbagai macam kota.

Ada srikandi-srikandi kecenya juga looh. Hehe

Sampai jam 13.00 kami baru bergegas menuju basecamp Kaliwadas.

Naik Truk! Asoy~~~

Menuju basecamp Kaliwadas diperlukan lagi perjalanan selama 2-3 jam. Asik deh Jaxson digoyang Jombang selama perjalanan di atas truk Asoy nih.. Hihi

Pukul 4 sore kami sudah sampai di  basecamp Kaliwadas. Simaksi tidak ditentukan nominalnya, Jaxson dan sahabat lainnya bayar seikhlasnya aja.

Jam 5 sore pendakian dimulai.

Jeng.. Jeng… Jeng!!!

Mukanya pada tegang tuh habis digoyang Jombang. Hahaha

Perjalan menuju pos satu Jaxson dan sahabat tempuh selama 45 menit. Kemudian langsung gas lagi pos dua sekitar 20 menit.

Jaxson istirahat sebentar sambil mempersiapkan Headlamp. Sebab hari sudah mulai gelap. Konon katanya kalau jam menuju Magrib Waktu Indonesia Bagian Islam, pendakian sebaiknya dihentikan sebentar. Menurut warga sekitar itu waktunya para makhluk yang kulitnya halus-halus sedang menuju pulang, jadi kita jangan ikutan pulang sama mereka gituu..

Percaya ndak percaya lah ya sahabat.

Perjalanan pun dilanjutkan. Oiya sahabat, untuk sumber air adanya itu hanya di Pos satu atau di Sumur pengantin yang letaknya tidak jauh setelah pos dua.

Jadi harus persiapan air yang lumayan banyak dari bawah, untuk keperluan logistik selama pendakian.

Tujuan pertama kami ialah camp area sebelum pos tiga.

Di gelap malam kami menerabas ranting, ilalang, pohon duri, juga pohon nyetrum yang cukup lebat.

Setelah perjalanan 2-3 jam akhirnya kami sampai di camp area yang kami tuju. Cuaca malam itu sangat syahdu, kami sedikit kebasahan karena gerimis malu-malu rusuh.

Tenda didirikan, acara masak malam dimulai, karena cuaca mendukung untuk bobok pules, sehabis makan kamipun langsung less– lesss— less—-

Light of and sleeping on the bag!

Gak tahu sejak kapan pagi datang, Jaxson dan sahabat mulai menyiapkan sarapan. Dari mulai masak beras sampai omelet super simple disuguhkan.

Pelajaran berharga nih sahabat, kalau mau makan kacang-kacangan di gunung, sebaiknya direbus dari rumah setengah matang. Sebab sahabat Jaxson ada yang masak kacang merah dari pagi mengucapkan salam kedatangan, sampai tanda ditiduri di carier, tuh kacang masih belum matang :’). Hahaha

Jam 10 pagi perjalanan dilanjutkan, tujuan kami ialah Plawangan, yang merupakan batas vegetasi sekaligus camp area terakhir sebelum menuju puncak.

Mendaki 30 menit dari camp area kami bertemu pos3. Sampai di Pos3 kami ambil napas sebentar kemudian tancap gas lagi pelan-pelan. Jalur pendakian masih dengan medan  safana yang lebat, hampir seluruh tubuh kami berdiri di antara belantara hijau sepanjang mata.

Kemudian perjalanan ke pos4, sepanjang perjalanan kisaran 1-2 jam kami belum menemukan pos4. Kami kaget tetiba kami sampai di pos 6. “Lah pos 4-5 kemana ya?”

Mungkin mereka berdua lagi enggan kami jumpai. Akhirnya kami langsung bersapa dengan pos 7.

Dari pos 7 ke sembilan itu jaraknya terbilang dekat. Hanya sekitar 15-20 menit waktu tempuh yang kami habiskan untuk check poin di tiap pos.

Dari pos 9 ke pos 10 kurang lebih satu jam.

Total perjalanan kami dari pos 1 ke 10 ialah setengah jam jalan santai..

Di pos 10 hujan turun, turun dengan tak syahdu. Mereka langsung turun deras menguras habis lambung awan.

Pendakian harus terus ditempuh.

Punggungan demi punggungan kami tapaki, hujan lebat rasa badai mengguyur hebat setiap jengkal langkah kami.

Badan menggigil, tangan mati rasa, gejala hipotermia jug sudah mendatangi beberapa sahabat Jaxson.

Tenda dibuka emergensi di jalur,

Beberapa sahabat Jaxson yang sampai di Pelawangan mengigil hebat.

Tenda banjir membuat dingin badai saat itu sangat terasa getir.

Beruntunglah jarak kami tidak terlalu jauh. Semua basah bisa diatasi, menggigil perlahan menjelma hangat  kebersamaan. Semua lengkap dan sehat.

Di dalam tenda mulai diisi dengan masakan hangat, termasuk kacang merah setengah matang (Hahaha) dan baju-baju basah.

Cerita kegelisahan keadaan fisik dan metal yang hampir habis dilibas tanpa dibilas.

Tak habis dibahas walaupun Jaxson tuliskan berjuta halaman. (LEBAY) haha

Saat badan kedinginan mata cenderung mengantuk, apalagi fisik sudah habis dikuras oleh pendakian. Rasa kantuk itu harus dilawan.

Kalaupun mau istirahat tidur, haruslah makan terlebih dahulu. Hal ini guna saat kita tidur, sistem pencernaan kita akan terus bekerja.

Jangan sampai semua organ beristirahat (untuk selamanya)

Malam kedua di camp area pelawangan terasa sangat hangat, sebab dingin sudah membalut seluruh tubuh kami.

Meski tulang dan otot terasa linu, namun hati kami tidak lantas beku dan membisu.

Kopi hitam dan selimut tawa menebar mekarnya canda berbuah cerita.

Pukul 04.00

“Sahabat.., muncak yuk!”

Bersyukur pagi itu sangat cerah, bintang berkedip manja kemayu melambaikan pijarnya.

Kami bergegas, menyiapkan sepatu basah dibungkus plastik melapisi kaki keriput karena dingin.

Langkah demi langkah kami unggah dengan gagah. Menuju dataran tinggi perenungan diri.

Kabut melapisi kegigihan. Batu tajam menghadang tekat yang sudah terlanjur lekat!

 

Bebatuan tajam sampai pasir kami lalui.

Sampailah kami pada titik terendah diri.

Dataran tinggi Gn. Slamet 3428 dpml.

Jakarta 18 Feb 16

One Response

Leave a Reply to Intan Fauzia Riswandy Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *