
Puisi
Punggungku yang Kerdil
Aroma keteduhan yang terpancar dari setiap gerakmu. Menyeka wangi sedapnya kuah bihun dan hangatnya malam bagian rindu Kenapa jantungku begitu

Aroma keteduhan yang terpancar dari setiap gerakmu. Menyeka wangi sedapnya kuah bihun dan hangatnya malam bagian rindu Kenapa jantungku begitu

Membaca tanpa lupa dan menulis tanpa jedaSeperti sebuah rumah yang jalannya sudah kau hafal Meski pulang bukan satu-satunya pilihan, kau

Kita perlu fokus pada hari iniMelangkah dari penyesalan waktuMenjauhi bayang ambisi Pastikan saja semua terkonversiMenjadi rasa bahagia, tak apa sementaraKata

Kamu adalah Minggu, hari yang selalu ku tunggu dengan banyak rencana dan upaya Pagi hari aku akan menggugahmu dari mimpi

Senja sejuta rona nampak mendung dari sisi bahu jalan Langit di Bulakapal dan sekitarnya tidak sedang baik atau sedih Perjalanan